Cerita Seks +18 : Hijaber Penuh Nafsu dan Bergairah - Perkenalkan saya Atmo. Berikut ini adalah
kisah nyata yang saya alami pada saat masih menduduki bangku SMU, tentu
saja dengan pacar pertama saya di kala itu. Langsung saja.
Saat itu tahun 2002 aku baru saja naik ke kelas 2 SMU. Bertepatan
dengan itu pula aku dipindahkan ke kampung halaman orang tuaku di sebuah
kota kecil diantara Jogja dan Solo. Pada akhirnya proses perpindahanku
pun berjalan dengan lancar dan akupun dimasukkan ke sebuah SMU swasta
erbasis keagamaan yang cukup terkenal di kota ini. Dimana seluruh
pelajar putri diwajibkan memakai penutup kepala.
Saat itu tujuanku yang pertama adalah
adaptasi dengan lingkungan dan bahasa. Budaya yang jauh berbeda dengan
tempat asalku di Kalimantan dulu juga dengan cepat dapat kupahami dan
kuikuti. Setelah melalui serangkaian proses adaptasi yang memakan waktu
kurang lebih 3 bulan, barulah aku dapat membaur dengan semua orang.
Karena memang pada dasarnya kemampuan komunikasiku yang di atas
rata-rata memudahkanku untuk bisa berinteraksi dengan siapa saja. Mulai
dari guru, tukang kebun, kakak kelas, sampai adik kelas juga. Singkat
cerita sejak saat itu aku sudah memiliki banyak teman baru di sini.
prestasi akademikku pun terbilang sangat
baik saat itu. Setelah melewati proses adaptasi, prestasiku pun terua
melejit. Bahkan di saat ujian kenaikan kelas, aku mampu menduduki
peringkat ke dua di kelasku. Aku memang menonjol di bidang IPA dan
Bahasa Inggris. Sehingga saat itu tidak sedikit teman-teman yang sering
sharing tentang Bahasa Inggris, karena memang yang kutahu di kotaku
sekarang ini Bahasa Inggris memang menjadi momok menakutkan bagi
teman-teman yang lain.
Seiring berjalannya waktu, akupun naik ke
kelas 3 SMU. Pada saat itu aku mulai diwajibkan mengikuti tutorial
tambahan untuk persiapan UN. Pada hari itu, tepatnya hari Kamis,
teman-teman yang lain memilih untuk tidak mengikuti tutorial yang
kebetulan saat itu kelas Bahasa Inggris. Hanya ada aku dan seorang adik
kelas yang memang diminta hadir oleh guru Bahasa Inggris kami untuk ikut
belajar tambahan Bahasa Inggris.
Pertama kali kulihat dia, orangnya manis,
putih, tingginya 155cm. Yang berikutnya kutahu namanya adalah Ana. Guru
Bahasa Inggris kami yang mengenalkannya padaku karena dia tahu sampai
saat itu aku masih jones hehehe… Singkat cerita bisa dibilang saat itu
aku mengalami jatuh cinta pada pandangan pertama. Tapi aku pesimis,
dengan penampilanku tinggi 167cm, berat 82kg, kulit hitam, wajah
pas-pasan. Dengan perlahan kami berjabat tangan dan saling bertukar nama
dihadapan guru kami. “Ana” jawabnya singkat dihiasi senyum di wajahnya.
Dan, Waw… ternyata Ana welcome dan supel terhadap orang baru. Mungkin
karena aku diperkenalkan oleh guruku sendiri.
Akhirnya karena saat itu tidak ada yang
berangkat tutorial, aku pun diminta oleh guruku untuk berbagi
pengetahuan dengan Ana adik kelas yang baru ku kenal tadi. Sedangkan
guru kami beranjak meninggalkan kami untuk pulang karena berfikir tidak
ada murid yang berangkat. Saat itu cukup lama kami berbincang-bincang,
walaupun hanya seputar pelajaran sekolah saja. Tapi itu sudah cukup
membuat hatiku senang. Diselingi dengan candaan yang kulontarkan Ana
merasa nyaman ngobrol denganku. Hingga akhirnya waktu menunjukkan pukul 4
sore. Kutahu sebentar lagi Ana dijemput. Saat itu juga aku meminta
nomer HP nya, dan benar saja. Selang 10 menit kemudian Ana dijemput
bapaknya dengan sepeda motor. Akupun ikut pulang dengan motorku sendiri.
Akupun ikut pulang dengan motorku sendiri.
Akupun ikut pulang dengan motorku sendiri.
Segera setelah sampai di rumah dan
menyegarkan diri dengan mandi setelah seharian beraktivitas di sekolah,
kubuka HP ku dan langsung menghubungi Ana dengan sms standar basa basi
ala remaja jones.
“hi ana, lg ngapain?udah maem n mandi
kan?” isi pesan yang kukirim kepada Ana. Beberapa saat kemudian smsku
pun langsung dibalas olehnya.
“hi juga atmo. udah semua kok. thanx ya td ud mw brbagi ilmu di skul… ” begitulah isi balasan sms Ana, dan percakapan pun terus berlanjut hingga akhirnya aku dan dia janjian untuk berangkat dan pulang sekolah bersama keesokan harinya.
Malam ini terasa sungguh lama berlalu.
Ingin rasanya cepat berganti pagi. Aku memang sudah tidak sabar untuk
segera bertemu dengan Ana. Hingga dalam lamunanku membayangkan wajahnya
pun aku terlelap. Hari pun telah berganti, dan pagi yang kutunggu pun
akhirnya datang juga. Dengan bergegas aku mandi dan tak lupa bersiap
untuk tampil sebaik mungkin dihadapannya. Jam menunjukkan pukul 06.20,
aku sudah siap. Kupacu motorku ke rumahnya yang berjarak 10 menit
perjalanan ke rumahnya. Hingga akhirnya akupun tiba di depan gerbang
rumahnya. Dia pun sudah siap menunggu di teras rumahnya. Aku terpana
melihatnya, sesosok gadis remaja berseragam putih abu-abu dengan
mengenakan penutup kepala standar bukan model jilboob seperti yang
banyak beredar akhir-akhir ini. “Pagi Ana, sudah siap berangkat?”
sapaku. “Pagi juga Atmo, ayo berangkat sekarang aja. Udah jam setengah
tujuh nih, ntar bisa telat kalo ga buru-buru.” jawab Ana. Tak lupa aku
juga berpamitan dengan orang tuanya yang baru keluar dari dalam rumah.
Ketika Ana hendak menaiki motorku,
sekilas tercium aroma wangi khas remaja. Motor pun kupacu dengan santai,
sehingga waktuku bersamanya di perjalanan bisa lebih lama. Selama
mengendarai motor, pikiranku tidak bisa konsentrasi penuh ke jalanan di
depanku. Pikiranku terganggu dengan hadirnya suatu rasa dari benda yang
empuk dan kenyal yang selalu menyentuh punggungku. Yang ternyata itu
adalah payudara Ana. Darah remajaku pun saat itu langsung bangkit
seketika, dan semakin membuatku penasaran untuk mencari tahu seperti apa
benda yang telah mengusik birahi kelelakianku.
habis maem… …benda yang telah mengusik birahi kelelakianku.
Tak terasa motor yang kami kendarai telah
tiba di depan gerbang sekolah. Saatnya kami berpisah untuk bertemu
kembali usai sekolah.
Di dalam kelas pikiranku tak dapat fokus
pada setiap mata pelajaran yang disampaikan oleh bapak ibu guru. Yang
ada dipikiranku hanyalah kejadian yang baru saja kualami pagi tadi saat
memboncengkan Ana. Suatu sensasi yang baru kurasakan dan membuatku tak
dapat berpikir jernih, mengundang hasrat birahi dan rasa ingin tahuku
yang dalam untuk bisa merasakan lebih. Memang sebagai remaja lelaki
normal aku telah sedikit banyak mengetahui tentang dunia seks. Semua itu
karena kebiasaan om-om ku saat di Kalimantan yang sering menggoda
perempuan. Bahkan pembantu rumah tangga pun tak luput dari incaran
mereka dan sering kamarku yang dijadikan tempat bagi mereka melampiaskan
hawa nafsu.
Akhirnya bel tanda jam pelajaran selesai
berbunyi. Saatnya bertemu Ana dan mengantarkannya pulang, pikirku.
Sepuluh menit aku menunggu Ana menghampiriku di tempat parkir motor
sekolahku. Aku pun menyapanya dengan basa basi alakadarnya saja. “Gimana
pelajaran hari ini? kamu lapar ga? mau makan dulu apa langsung pulang?”
tanyaku. Ana pun menjawab “biasa aja kok pelajarannya. hmmm lapar sih,
mampir makan dulu juga boleh.” Akhirnya atas inisiatifku motor kuarahkan
ke twmpat makan yang memang biasa dipakai muda mudi di kota ini untuk
berduaan, bukan makan tujuan utamanya. Aku melajukan motorku ke arah
warung makan terapung yang cukup terkenal di kotaku. Sesampainya di
sana, aku langsung memesan satu porsi ikan bakar yang kiranya cukup
untuk kami berdua dan dua gelas es teh. Aku saat itu sengaja memilih
tempat yang agak jauh dari keramaian, jauh dari kasir dan lalu lalang
tamu lain. Sebelum pesanan kami datang aku berusaha “to the point”
kepada Ana. Aku langsung utarakan perasaanku padanya. Sambil kucoba raih
telapak tangannya dan kugenggam, tak ada penolakan sama sekali darinya,
hanya tatapan heran yang terpancar diwajahnya. “Ana, sejak pertama
lihat dan kenalan sama kamu, aku langsung suka dan sayang sama kamu,
boleh gak aku menjadi lebih dekat lagi sama kamu?” tanyaku saat itu. Ana
tidak langsung menjawab. Aku tetap menatapnya penuh arti. Sesaat
kemudian, “Aku juga mau kok kenal kamu lebih jauh dan lebih dekat lagi”
jawabnya. Saat itu aku pun langsung reflek memeluknya dan mengucapkan
terima kasih. Di saat memeluk Ana, aku kembali merasakan adanya benda
kenyal yang menempel ke dadaku. Akupun semakin berani karena sudah
terlanjur birahi untuk sekedar mengecupnya di kening dan di bibir. Semua
itu Ana terima dengan senyuman. Setelah kejadian itu, pesanan lami pun
datang dan kami lanjutkan percakapan kami dengan menyantap hidangan yang
telah tersedia.
Selesai menghabiskan santap siang kami,
aku kembali bertanya kepada Ana “sekarang mau kemana lagi na?”.
“terserah” jawab Ana singkat. Aku pun tak menjawabnya lagi. Aku langsung
menuju kasir dan membayar pesananku tadi lalu kamipun mengendarai motor
lagi. Dalam perjalanan aku pun berpikir untuk mengajaknya ke rumahku.
“Gimana kalau mampir ke rumahku?” tanyaku. “Boleh, tapi jangan lama-lama
ya.” jawab Ana. “Ya udah kamu kabarin orang rumah dulu aja, biar mereka
gak khawatir.” Dia pun menyetujuinya. Aku pun sesegera mungkin
mengarahkan motor ke rumahku. Dengan terus berpikir apa yang akan
terjadi selanjutnya di rumahku nanti. Mungkin itu juga yang ada di benak
Ana, karena sepanjang perjalanan kami tak banyak melakukan percakapan.
karena sepanjang perjalanan kami tak banyak melakukan percakapan.
Akhirnya motor yang kami kendarai pun
sampai di rumahku. Aku pun lalu mempersilahkan Ana masuk sebelum
terlebih dahulu kuperkenalkan pada Ibuku. Setelah perkenalan itu, Ibuku
pun meninggalkan kami di rumah utama. Akupun mulai berbincang-bincang
dengan Ana. Hingga pada satu moment kami saling bertatapan dan diam
seribu bahasa, kuberanikan untuk menggenggam tangannya. Dia pun
mengizinkannya, akupun semakin tertantang untuk berbuat lebih jauh lagi.
Wajah kami saling berdekatan, Ana terpejam seakan menanti-nanti apa
yang selanjutnya akan kulakukan. Sesaat kemudian kukecup keningnya,
turun ke kedua matanya, pipinya yang merona, hidung yang mancung, hingga
pada akhirnya kecupanku berhenti tepat dibibirnya.
Kecupan dibibir yang awalnya berupa
kecipan sayang telah berubah menjadi sebuah ciuman yang penuh nafsu.
Nafas kami terdengar saling memburu. Dengusan penuh nafsu terdengar
mengisi ruang tengah yang kami tempati. Semakin panas, ciuman penub
hasrat yang hanya mengikuti naluri oleh dua insan yang sedang dimabuk
birahi. “I love you Ana” kata itupun terlontar diantara ciuman kami yang
memanas. “hmmppffhhh, I love you too Atmo”, jawab Ana disaat bibirku
kembali melumat bibirnya.
Tanganku reflek seperti dituntun untuk
menggapai sesuatu yang sedari pagi membuatku penasaran. Ya, tanganku
dengan sendirinya mulai meraba dan perlahan-lahan meremas bukit kembar
Ana. Ana hanya melenguh tertahan menghadapi kelakuanku.
“aaahhhssss….sayank….hmmmppfff…geli yank….” desah Ana tanpa melepaskan
bibir kami yang masih tetap berpagutan dengan penuh nafsu. Jemariku
mulai bekerja melepas kancing seragam yang mulai acak-acakan. Perlahan
tapi pasti tiga buah kancing yang tertutup penutup kepala lebar mulai
terbuka. Kusibakkan penutup kepala lebar yang sedari tadi menutupi
keindahan bukit kembar Ana. Kini tanganku leluasa menyusupi bagian tubuh
Ana yang seharusnya hanya ia persembahkan pada suaminya kelak. Tanganku
terus menyeruak masuk melalui celah seragam yang telah terbuka lebar.
Akhirnya kurasakan bongkahan kenyal yang hangat. Jemariku dengan nakal
mencoba mencari celah untuk bisa masuk melalui celah bra yang Ana pakai.
“ssshhh…yank…” hanya kata itu yang mampu
dilontarkan oleh Ana ditengah gelora birahi yang sedang melandanya.
Akhirnya jariku menemukan yang kucari. Sepasang daging kecil diujung
bukit kembar Ana yang telah mengeras. Kupilin-pilin dengan lembut, tubuh
Ana bergetar. Ini pertama kali bagi kami. Hingga tanpa sadar tangan Ana
juga reflek mengelus-elus batang kejantananku yang sudah tegang dari
tadi, bahkan mulai mengeluarkan cairan pelumas diujungnya.
Ciuman kami yang penuh gairah pun kami
hentikan. Kutatap wajahnya yang sayu, akupun mengajaknya untuk pindah ke
dalam kamarku yang memang siapapun tidak boleh masuk tanpa seizinku.
Bahkan orang tuaku sekalipun. Hanya sebuah anggukan kecil yang kudapat.
Kamipun membenahi pakaian kami dan keluar menuju kamarku yang terletak
di luar bangunan utama.
Setelah berada di kamarku, Ana berdiri
terpaku. Bingung akan apa yang sedang dia lakukan. Seakan terbius oleh
nafsu birahi yang sedang melanda kami. Penasaran dengan apa yang akan
terjadi lagi diantara kami. Akupun tak menyia-nyiakan waktu. Langsung
kudekap Ana dan kamipun berpagutan dengan lebih panas lagi. Lidah kami
saling memilin satu sama lain, saling menghisap. Tanganku yang memeluk
pinggangnya mulai turun ke arah pantatnya yang padat berisi. Ana
mendesah “aaaahhhhh…” saat tanganku meremas pantatnya dan menariknya ke
atas. Kutekankan batang kejantananku ketubuhnya. Tangan Ana tidak
tinggal diam, tangannya menggapai batang kejantannku dan mulai
mengelus-elusnya dengan lembut. Tanganku pun kini telah pindah ke depan.
Meremasi dadanya yang kencang dan menggantung seperti pepaya mengkal.
Tak mau berlama-lama kulepas lagi satu persatu kancing baju seragam yang
baru saja dirapihkan. Setelah terlepas semua aku pun menurunkan
ciumanku langsung kearah dada, bersembunyi di balik penutup kepala lebar
yang ia kenakan. Perlahan namun pasti seragam sekolah yang Ana kenakan
kulepas. hanya tersisa kaos dalam yang yang masih menutupi bra yang ia
kenakan.
Tanganku mulai dengan lembut membelai
pundaknya dengan tanpa melepas cumbuanku di daerah dada Ana.
Perlahan-lahan kupelorotkan kaos dalam yang ia kenakan melalui kedua
tangannya. Hingga akhirnya tampaklah gunung kembar Ana yang putih bersih
kenyal menggantung dengan masih terbungkus bra motif army. Tangan Ana
mulai meremasi rambutku seiring menikmati sensasi cumbuan yang
kuberikan. Ana terus mendesah saat bibirku menyapu permukaan bukit
kembarnya. “ssshhhhh….geli…yank…”, suaranya terdengar bergetar. Tak
tahan dengan terus berdiri, tubuh Ana pun kubimbing menuju tempat
tidurku. Di pembaringan dengan tanganku memeluk dan mengelus-elus
punggungnya dengan tetap mencumbu bukit kembarnya dan meninggalkan
beberapa bekas merah didadanya. Kami semakin larut dalam permainan ini.
Semua akal sehat sudah hilang, hanya nafsu birahi yang menuntun kami.
Kuberanikan diriku untuk berbuat lebih jauh. Kucoba membuka kaitan bra
dipunggungnya. Tangan Ana mencoba menahan sambil matanya menatapku
dengan sayu. Saat itu hanya ada satu kata ajaib yang membuatku
mendapatkan all access. “I love you forever sayank”, pegangan tangannya
pun melemah dan Ana kembali terpejam menikmati rasa yang ada. Kulepas
kancing pengait bra yang Ana kenakan, dan tersembullah bukit kembar Ana
yang tak begitu besar namun putih mulus padat dengan puncak berwarna
pink. Tak perlu menunggu lama langsung kukulum puncak tersebut dan
kumainkan lidahku di sana. Menari-nari dengan lidahku dan sesekali
kuhisap dan kugigiti dengan gemas. Ana yang menikmati cumbuanku
meremas-remas rambutku dan terus menggelinjang. “Enak
sayank…terusssshhhh…”, racau Ana yang sedang menikmati hal ini untuk
pertama kalinya.
Tanganku yang sedari tadi mengelusi
punggung Ana mulai berpindah menuju bukit kembarnya kuremasi dengan
lembut dan kumainkan putingnya dengan jari telunjuk dan jempolku
sementara bibirku terua mengulum puting yang satunya. Seakan tak puas
sampai disini, aku pun mulai melucuti pakaianku sendiri satu persatu
hingga hanya menyisakan sebuah segitiga pengaman yang sudah tak mampu
lagi menampung batang kejantananku yang telah menyembulkan kepalanya
seakan hendak melompat keluar.
Setelah itu tanganku mulai bergerak turun
meremasi bongkahan pantatnya yang masih tertutup rok panjangnya. Akupun
mulai membuka kancing roknya dan menurunkan resleting roknya. Ketika
tanganku mencoba menirunkan roknya, tiba-tiba Ana menggenggam
pergelangan tanganku. Kali ini aku tak berbicara sepatah katapun, hanya
menatapnya dan mengulum lembut bibirnya yang kuimbangi dengan
meremas-remas kembali bukit kembarnya. Saat kurasa waktunya telah tepat,
kucoba kembali untuk menurunkan roknya. Kali ini tak ada penolakan dari
Ana, ia malah membantuku dengan sedikit mengangkat pantatnya untuk
memudahkanku. Setelah berhasil turun selutut, kakiku kugunakan untuk
meloloskannya turun.
Tanganku mulai meraba-raba dengan halus
kemulusan pantat dan pahanya, hingga akhirnya tanganku berhenti tepat di
gundukan kewanitaannya. Ana tersentak saat jari telunjukku mulai
menyusuri belahan kewanitaannya dari luar celana dalamnya yang mulai
basah. “aaaaakkkkhhhh….saaaayyyaaaaannnkkkk” ujarnya bergetar. Perlahan
tanganku mulai menyusupi celana dalamnya. Kurasakan ada rambut-rambut
halus yang cukup lebat di kemaluannya. Masuk lebih dalam lagi dan
kutemukan gundukan daging yang hangat dan berair dengan satu titik yang
terasa keras. Ya, jari tengahku berhasil menemukan bagian yang paling
sensitif didirinya.
Terus kumainkan benjolan kecil tersebut
hingga badan Ana terus tersentak-sentak entah karena kegelian atau
merasakan nikmat tiada tara. Semakin lama kumainkan, semaki banyak
cairan yang keluar dari organ kewanitaannya. Aku pun tak tahan lagi,
batang kejantananku yang sudah menyembul hampir setengahnya dari ujung
celana dalamku meminta untuk segera dibebaskan. Celana dalamku pun
kulepaskan. Lega rasanya. Tak mau sendirian telanjang, celana dalam Ana
pun akhirnya kupelorotkan seklian.
Kembali kami berciuman dengan penuh
nafsu, dan hanya berdasarkan naluri akupun kini telah berada diatas
tubuh Ana. Kugesek-gesekkan batang kemaluanku di permukaan bibir
kewanitaanya. “hhhmmpppffhhh…..hhhsssshhh….aaaaa…”, entah apa yang coba
dikatakannya. Hingga akhirnya Ana mencengkram erat punggungku dan kedua
kakinya dilingkarkan dipinggangku. Sebuah teriakan kecil terdengar dari
mulutnya. “ooouuuugggggghhhhh…aaaakkkhhhh….ayank jahat!”. Ternyata Ana
orgasme untuk pertama kali dalam hidupnya.
Kubiarkan ia sejenak mengatur nafasnya
yang memburu setelah orgasme. Setelah nafasnya mulai normal, dengan
masih menindihnya dan mengecupi seluruh area wajahnya, Ana berkata “aku
takut yank, aku takut hamil!”. Karena pada saat itu yang Ana tahu adalah
apabila sel telurku ber ampur dengan sel induknya, maka akan terjadi
pembuahan dan kehamilan. Dengan gentle aku pun berkata “aku siap untuk
bertanggung jawab. apapun yang akan terjadi, aku siap yank!” jawabku.
Ana pun langsung memelukku dan berkata “love you sayank, aku yakin kamu
gak akan ngecewain aku”. Kamipun melanjutkan aktivitas kami. Aku mulai
memainkan kembali kedua bukit kembarnya dengan satu tanganku dan bibirku
kembali mencumbui bukit kembarnya. Sementara tangan kiriku memainkan
kembali daerah kewanitannya hingga membuatnya basah kembali.
Ana hanya menatapku dengan sesekali
ketika kutatap balik ia melemparkan senyum manisnya. Nafsuku yang sudah
diubun-ubun tak mampu lagi kubendung. “aku masukin ya sayank?” tanyaku
meminta peraetujuan darinya. Iapun membalasnya dengan sebuah anggukan
kecil dan berkata “iya sayank, buat ayank apapun akan kuberikan,
termasuk hartaku yang paling berharga” dengan dihiasi senyum manis
diwajahnya.
Akupun mengecup keningnya sebagai tanda
terima kasih dan sayangku padanya. Aku pun mulai memposisikan diriku,
Ana membantuku dengan menggenggam batang kejantananku dan mengarahkannya
tepat dimulut kwanitaannya. Setelah terasa pas, tangan Ana yang satunya
menekan pantatku seolah menginginkanku untuk segera memasukkan batang
kejantananku sedalam mungkin. Beberapa kali mencoba namun selalu gagal,
hingga pada percobaan yang ke lima, aku mencoba menekan perlahan tapi
dengan menambahkan sedikit tenaga hingga masuklah kepala kejantananku ke
dalam liang senggamanya. “ssshhhhh….ooouuuccchhh….perih yank…” Ana
berkata sambil menggigit bibir bawahnya. “Tahan sebentar ya sayank”
jawabku. Ana mengangguk sambil memejamkan mata dan menahan perih yang
dia rasakan. Aku pun lalu melumat bibirnya dan tanganku mengelus
rambutnya sambil belum merubah posisi agar liang senggamanya bisa lebih
rileks. Setelah kurasa Ana lebih tenang dan liang senggamanya mulai
terbiasa. Masih dengan melakukan french kiss, akupun dengan tiba-tiba
menghentakkan batang kejantananku ke dalam liang senggamanya. Ana
terbeliak dan spontan menggigit bibirku. “aaaaaaacccchhhhhhh……”
teriaknya tertahan karena saat itu masih berciuman denganku. Kuhentikan
aktivitasku di bawah aana sejenak agar Ana terbiasa dan menghilangkan
efek shock pada dirinya.
Air mata menetes membasahi pipinya, aku
pun menyekanya dengan punggung tanganku. “I love you honey…” kubisikkan
kata tersebut dengan mesra ditelinganya. Ia pun menjawab “love you too”,
sambil melingkarkan tangannya dileherku dan kedua tungkai kakinya
menjepit pantatku. “masih sakit yank?” tanyaku. Ana hanya menggeleng dan
tersenyum. Aku pun mencoba untuk menggerakkan pinggulku maju dan
mundur. “ssshhhh…..enak sayank…iya.hhh…di situ sayankhhh…” desah Ana
saat mulai kugerakkan batang kejantananku. Kamipun berciuman kembali dan
saling mengelus satu sama lainnya. Aku kaget saat tiba-tiba Ana berubah
menjadi beringas, binal, lidahku disedot-sedot dan kamipun saling
bertukar liur. Sepuluh menit berlalu, Ana semakin bergerak liar. Kalau
aku mengangkat pantatku naik, Ana menurunkan pantatnya turun dan
sebaliknya, hingga batang kejantananku bisa masuk lebih dalam lagi.
Gerakanku semakin kupercepat dan pelukan Ana terhadapku semakin erat.
“aaaarrrggghhhhhh…..sayank…..aku pipis yank….” Ana belum tahu apa itu
orgasme. Ana mengalami orgasme yang hebat.
Aku tetap tidak merubah gaya bercinta
kami. Karena memang kami belum mengetahui gaya-gaya lain. Setelah kurasa
Ana mulai teratur nafasnya aku pun mulai menggerakkan kembali
pinggangku maju mundur. Tangan Ana memainkan dan meremasi bongkahan
pantatku. Akupun tak kalah diam turut meremasi bukit kembar Ana.
“sshhhhh….ahhhkkk….ayo sayang…” desah Ana. “Iya
sayang….aaahhh….rrrggghhh….enak sayang….”, ujarku. Tak berapa lama
akupun merasakan ada sesuatu yang akan keluar dari dalam batang
kejantananku. “rrrgghhhh….aaahhhhh….sayang aku mau keluar yank…” ujarku.
“iya sayankkk…keluarin aja sayankkkhhh….jangann dittahan…” jawab Ana
dengan suara bergetar dan terputus-putus. Yang kutahu Ana juga akan
segera mendapatkan orgasmenya yang ke tiga. Akupun menggerakkan
pinggulku dengan lebih cepat, sementara Ana mengimbanginya dengan
memutar-mutarkan pinggulnya. Sesaat kemudian aku pun menggeram
“aaarrgghhhh….aku keluar sayankkkk…aaaakkhhhh….crrrootttt…crootttt…
crotttt….crot…crot…”. “akkkkhhuuu….juu…gaa….piphhiisss…lhhaaghii
i….yaaaankkkk….aaaaakkkkkhhhh…..” ujar Ana. Kamipun mengalami orgasme
bersamaan.
Kudiamkan batang kejantananku beberapa
saat di dalam liang kewanitaannya yang masih berdenyut-denyut. Hingga
akhirnya lututku dan sikuku lemas tak mampu menopang tubuhku yang
akhirnya ambruk di sisinya. Sambil berbaring, kupalingkan wajahnya dan
kukecup bibirnya sambil berkata “love you sayank”. “Love you too
sayankku” jawab Ana diiringi dengan senyum manis diwajahnya.
Kamipun bergegas membersihkan diri di
kamar mandi kamarku. Setelah siap dan rapi, kamipun keluar kamar menemui
Ibuku untuk mengantar Ana berpamitan. Setelah itu aku pun bergegas
mengantar Ana pulang menuju rumahnya. Tak lupa di jalan aku mampir
membeli buah tangan untuk Bapak dan Ibunya Ana, dengan tujuan nyogok sih
. Dan setibanya di rumah Ana langsung kutemui Ibunya sambil memberikan
buah tangan yang kami beli di jalan tadi dan menyampaikan permintaan
maafku karena mengajak Ana pergi main sampai sore hari.
Hubunganku dengan Ana terus berjalan
dengan baik hingga kami menginjak jenjang Universitas. Kurang lebih
selama 3,5 tahun kami berhubungan dan melakukan seks hampir setiap saat,
di rumahku, di kamar kostku, di hotel, dimanapun kami mau.
Hingga pada akhirnya hubungan kami harus
berakhir karena kebodohanku sendiri yang terlalu sibuk dengan duniaku
hingga Ana memilih untuk berhubungan dengan orang lain. Sejak saat itu
aku berjanji akan ada Ana-Ana lain yang bisa kuajak berhubungan seks
sekedar memuaskan nafsuku. Bukan atas nama cinta.
0 Response to "Cerita Seks +18 : Hijaber Penuh Nafsu dan Bergairah"
Posting Komentar